Benarkah Kepintaran Anak Menurun dari Ibu?

Pernah mendengar kalimat seperti ini? “Kalau anak pintar, berarti ikut ibunya.” Ucapan seperti ini cukup populer dan sering disampaikan sambil bercanda. Bahkan di media sosial, kita kadang menemukan penjelasan bahwa kecerdasan anak lebih banyak diwariskan dari ibu karena gen kecerdasan berada pada kromosom X.

Lalu, benarkah demikian?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Kecerdasan Memang Dipengaruhi Gen

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kognitif atau kecerdasan memang memiliki komponen genetik yang cukup kuat. Artinya, sebagian perbedaan kemampuan belajar, bernalar, memahami informasi, dan memecahkan masalah pada manusia berkaitan dengan variasi gen yang diwariskan dari orang tuanya. Namun, tidak ada satu “gen pintar” yang menentukan apakah seorang anak akan menjadi cerdas atau tidak.

Plomin dan von Stumm dalam Nature Reviews Genetics menjelaskan bahwa kecerdasan merupakan sifat yang poligenik. Artinya, kecerdasan dipengaruhi oleh sangat banyak variasi gen yang tersebar di seluruh genom manusia.

Penelitian besar terhadap hampir 270 ribu orang bahkan menemukan ratusan lokasi genom dan lebih dari seribu gen yang memiliki hubungan dengan variasi kecerdasan. Temuan ini semakin memperkuat bahwa kemampuan kognitif tidak ditentukan oleh satu atau dua gen saja. Dan tentu saja, anak memperoleh materi genetik dari ayah dan ibu. Jadi dari sisi genetika modern, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa kepintaran hanya—atau terutama—berasal dari ibu saja.

Lalu, Dari Mana Anggapan “Kepintaran dari Ibu” Berasal?

Salah satu alasan munculnya anggapan bahwa kecerdasan lebih banyak diturunkan dari ibu berkaitan dengan kromosom X. Perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Anak laki-laki mendapatkan kromosom X dari ibu, sementara anak perempuan mendapatkannya dari ayah dan ibu. Karena beberapa gen pada kromosom X berkaitan dengan perkembangan otak dan fungsi kognitif, muncul dugaan bahwa ibu memiliki pengaruh lebih besar terhadap kecerdasan anak.

Ibu Memang Punya Peran Besar, Tetapi Bukan Hanya Karena Gen

Ada bagian lain yang justru sangat menarik. Pengaruh seorang ibu terhadap perkembangan kecerdasan anak tidak selalu harus berasal dari gen yang diwariskan. Dalam sebuah penelitian mengenai IQ, ditemukan adanya maternal effects, lingkungan selama anak berada di dalam kandungan. Kondisi perkembangan janin dapat ikut memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif anak.

Dengan kata lain, ketika kita membahas “pengaruh ibu”, kita harus membedakan antara: gen yang diwariskan ibu dan lingkungan perkembangan yang diberikan ibu. Keduanya merupakan hal yang berbeda. Selain itu, setelah anak lahir, proses perkembangan pun tentu terus berjalan.

Gen Bukan Penentu Segalanya

Hal terpenting yang perlu dipahami orang tua adalah bahwa memiliki faktor genetik tertentu bukan berarti masa depan kecerdasan anak sudah ditentukan sejak lahir. Pada kehidupan nyata, perkembangan seorang anak tetap berlangsung melalui interaksi antara gen dan lingkungan.

Anak membawa potensi biologisnya masing-masing, tetapi lingkungan menyediakan ruang agar potensi itu berkembang. Pengalaman sehari-hari ikut membentuk bagaimana anak belajar. Kesempatan membaca, berbicara dengan orang tua, bermain, bergerak, mencoba sesuatu yang baru, memecahkan masalah, berinteraksi dengan teman, menghadapi kegagalan, hingga mencoba kembali merupakan bagian dari proses perkembangan kemampuan berpikir.

Karena itu, pertanyaan yang mungkin lebih bermanfaat bukanlah:

“Anak pintar ikut ayah atau ibu?”

Melainkan:

“Lingkungan seperti apa yang bisa kita berikan agar potensi anak berkembang dengan baik?”

Kepintaran Tidak Hanya Tentang Nilai

Ketika berbicara tentang anak, kita juga perlu berhati-hati menggunakan kata “pintar”. Kepintaran bukan hanya soal mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Seorang anak sedang menggunakan kemampuan berpikir ketika ia mencoba menyusun strategi dalam permainan, mencari jalan keluar ketika mengalami kesulitan, memahami aturan, berkomunikasi dengan temannya, belajar mengendalikan diri, hingga menemukan cara baru untuk melakukan sesuatu.

Di lapangan olahraga pun proses tersebut terus terjadi. Anak belajar membaca situasi, menentukan kapan harus bergerak, menunggu giliran, bekerja sama, mengambil keputusan dengan cepat, menerima kesalahan, kemudian mencoba lagi. Semua pengalaman seperti itu ikut menjadi bagian dari proses belajar anak.

Namun, sesungguhnya kita tidak perlu terlalu sibuk mencari siapa yang paling berjasa ketika anak terlihat pintar. Ayah boleh mengklaim. Ibu pun boleh tersenyum. Satu hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana keduanya bersama-sama memberikan ruang bagi anak untuk belajar, bermain, bergerak, bertanya, gagal, mencoba kembali, dan menemukan kemampuannya sendiri.

Gen mungkin memberi anak sebuah potensi. Namun, pengalamanlah yang memberi anak kesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut.


Referensi

Devlin, B., Daniels, M., & Roeder, K. (1997). The heritability of IQ. Nature, 388, 468–471. https://doi.org/10.1038/41319

Plomin, R., & von Stumm, S. (2018). The new genetics of intelligence. Nature Reviews Genetics, 19(3), 148–159. https://doi.org/10.1038/nrg.2017.104

Savage, J. E., Jansen, P. R., Stringer, S., et al. (2018). Genome-wide association meta-analysis in 269,867 individuals identifies new genetic and functional links to intelligence. Nature Genetics, 50, 912–919.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *