Bercanda atau Bullying? Jangan Sampai Terjadi di Lapangan Futsal

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berusia 7 tahun di Pemalang, Jawa Tengah, pada akhir September 2026, menjadi perhatian masyarakat. Anak tersebut diduga mengalami kekerasan dari sejumlah kakak kelasnya sebelum akhirnya meninggal dunia. Hingga berita ini mencuat, pihak berwenang masih menyelidiki kejadian dan penyebab kematiannya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kekerasan dan perundungan atau bullying terhadap anak tidak boleh dianggap sepele. Selama ini, bullying sering dikaitkan dengan lingkungan sekolah. Padahal, perilaku serupa juga bisa terjadi di lingkungan bermain, termasuk di lapangan futsal.

Ketika Candaan Tidak Lagi Menyenangkan

Bercanda dan saling menggoda merupakan hal yang biasa dalam sebuah tim futsal. Namun, tanpa disadari, candaan terkadang bisa menyakiti perasaan teman. Misalnya, seorang anak terus diejek karena gagal mencetak gol atau jarang diberi operan karena dianggap kurang hebat. Bagi sebagian anak mungkin hanya bercanda, tetapi bagi yang mengalaminya, hal tersebut bisa membuatnya malu, kehilangan percaya diri, bahkan enggan kembali berlatih.

Tidak semua candaan termasuk bullying. Namun, jika perilaku menyakitkan terjadi berulang, disertai ketimpangan kekuatan, dan membuat anak sulit membela diri, hal tersebut dapat menjadi perundungan. Oleh karena itu, penting bagi anak-anak untuk memahami bahwa sesuatu yang lucu bagi dirinya belum tentu menyenangkan bagi temannya.

Futsal Seharusnya Menjadi Tempat Anak Tumbuh Bersama

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang cepat menguasai teknik bermain, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.Ada anak yang percaya diri saat bertanding, sementara yang lain masih gugup ketika menerima bola.Perbedaan ini merupakan bagian dari proses belajar yang perlu dihargai.

Futsal bukan hanya tentang siapa yang paling banyak mencetak gol atau siapa yang paling hebat dalam tim. Melalui futsal, anak juga belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, dan saling mendukung.

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mencegah Bullying?

Mencegah bullying tidak harus dimulai dengan aturan yang rumit. Kebiasaan sederhana selama latihan dan pertandingan justru dapat membantu membangun lingkungan yang lebih aman dan menyenangkan.

  • Pertama, biasakan anak saling memberikan semangat. Ketika teman gagal mencetak gol, kehilangan bola, atau melakukan kesalahan, ajarkan untuk memberikan dukungan dan tidak saling menyalahkan.
  • Kedua, pastikan tidak ada anak yang dikucilkan. Pelatih dapat merotasi pasangan atau kelompok latihan agar setiap anak memiliki kesempatan bermain dan bekerja sama dengan teman yang berbeda. Anak yang kemampuannya masih berkembang tetap perlu merasa diterima dalam tim.
  • Ketiga, ajarkan anak berani mengatakan “Stop, itu tidak lucu!” Ketika melihat temannya terus diejek atau dipermalukan, anak dapat belajar untuk tidak ikut menertawakan. Jika situasinya tidak aman atau perilaku tersebut terus berulang, anak perlu segera meminta bantuan pelatih.
  • Keempat, sepakati aturan sederhana dalam tim. Misalnya, tidak boleh mengejek, tidak boleh menyakiti secara fisik, dan tidak boleh mengucilkan teman. Pelatih perlu mengingatkan serta menerapkan aturan tersebut secara konsisten.
  • Kelima, orang tua perlu membangun komunikasi dengan anak. Sepulang latihan, jangan hanya bertanya, “Tadi menang atau kalah?” Cobalah sesekali bertanya, “Tadi latihan menyenangkan tidak?” atau “Ada kejadian yang membuat kamu sedih?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalaman yang mungkin selama ini dipendam.

Jika ditemukan dugaan bullying, pelatih dan orang tua perlu segera mendengarkan anak, memastikan keselamatannya, dan menindaklanjuti kejadian dengan baik. Jangan menganggap ejekan atau kekerasan sebagai sesuatu yang wajar hanya karena dilakukan oleh anak-anak.

Menjadi Pemain Hebat Sekaligus Teman yang Baik

Di Shooter Junior Futsal Club, kami percaya bahwa pembinaan anak tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknik bermain futsal dan meraih prestasi, tetapi juga membangun karakter yang baik. Anak-anak perlu belajar bahwa menjadi pemain hebat bukan berarti boleh merendahkan teman yang kemampuannya masih berkembang. Sebaliknya, pemain yang baik adalah mereka yang mampu menghargai, membantu, dan memberikan semangat kepada teman satu tim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *